Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
TOURSEHAT.COM-Olahraga rutin selama ini dikenal sebagai salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan temuan yang menarik, yakni orang yang melakukan olahraga dengan intensitas sangat tinggi dalam jangka panjang dapat memiliki lebih banyak plak pada pembuluh darah jantung dibandingkan mereka yang berolahraga dalam intensitas sedang.
Temuan ini kerap memunculkan anggapan bahwa olahraga keras justru berbahaya bagi jantung. Padahal, para ahli menegaskan kondisi tersebut tidak bisa disimpulkan sesederhana itu.
Dalam sejumlah studi terhadap atlet ketahanan, seperti pelari maraton, pesepeda, dan atlet triatlon, peneliti menemukan adanya peningkatan plak pada arteri koroner. Namun, sebagian besar plak yang ditemukan merupakan plak berkalsium atau plak yang telah mengeras.
Menurut Dr. Paul D. Thompson, ahli kardiologi olahraga dari Hartford HealthCare yang juga ketua penulis pedoman AHA/ACC tentang penyakit arteri koroner pada atlet, plak berkalsium memiliki karakteristik yang berbeda dengan plak lunak. Plak yang sudah mengeras cenderung lebih stabil sehingga memiliki risiko lebih rendah untuk pecah dan menyumbat aliran darah.
Sebaliknya, serangan jantung lebih sering dipicu oleh pecahnya plak lunak yang tidak stabil.
Di sisi lain, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang rutin berolahraga, termasuk dengan intensitas tinggi, tetap memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang bergerak. Hal ini karena olahraga memberikan banyak manfaat, seperti menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar gula darah, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), menjaga berat badan, serta meningkatkan fungsi pembuluh darah dan kebugaran jantung.
Para peneliti menilai hubungan antara olahraga dan kesehatan jantung tidak bersifat linier. Aktivitas fisik dalam jumlah sedang memberikan manfaat yang sangat besar, sedangkan olahraga dengan volume yang sangat tinggi selama bertahun-tahun belum tentu memberikan manfaat tambahan yang sebanding bagi setiap orang.
Pada sebagian kecil individu, olahraga ekstrem diduga dapat memicu perubahan tertentu pada jantung maupun pembuluh darah yang masih terus diteliti.
Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa olahraga intens secara langsung menyebabkan lebih banyak serangan jantung pada orang yang sehat. Sebaliknya, mayoritas penelitian tetap menyimpulkan bahwa manfaat olahraga jauh lebih besar dibandingkan risikonya.
Karena itu, para ahli menyarankan masyarakat tetap berolahraga secara teratur sesuai usia, kondisi kesehatan, dan kemampuan fisik masing-masing. Bagi mereka yang berencana menjalani latihan dengan intensitas sangat tinggi atau mengikuti olahraga ketahanan dalam jangka panjang, pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menjadi langkah bijak untuk memantau kondisi jantung.****














