Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
TOURSEHAT.COM-Di balik megahnya puncak Gunung Everest, tersimpan sebuah fenomena lingkungan unik yang dipicu oleh aktivitas biologis manusia di ketinggian ekstrem.
Para pendaki yang berjuang menaklukkan gunung tertinggi di dunia ini diwajibkan mengonsumsi air dalam jumlah masif demi menangkal dehidrasi di udara tipis, yang secara otomatis melonjakkan volume urine mereka secara drastis.
Berdasarkan studi ilmiah terbaru, fenomena buang air kecil massal ini terbukti membawa dampak mekanis yang mengejutkan, di mana air kencing yang dikeluarkan oleh ribuan pendaki dan pemandu lokal mampu mencairkan hingga 154 ton es di Gletser Khumbu sepanjang musim pendakian.
Sebagaimana dilansir oleh The New York Times, setiap memasuki musim puncak di musim semi, wilayah Base Camp berubah menjadi kota tenda padat yang memproduksi lebih dari 6.000 liter urine hangat setiap harinya.
Berbeda dengan limbah padat yang wajib ditampung dan dibawa turun, urine cair ini umumnya langsung dibuang ke permukaan gletser. Air kencing manusia yang keluar dalam kondisi hangat—sekitar 37 derajat Celsius—serta kaya akan kandungan urea dan garam, bekerja layaknya cairan peleleh es alami yang agresif saat menyentuh lapisan es beku.
Akumulasi dari paparan cairan hangat ini selama 50 hari masa pendakian menghasilkan daya leleh yang setara dengan hilangnya ratusan ton es padat, mempercepat degradasi lokal di area perkemahan yang kini dilaporkan memanas dua kali lebih cepat daripada wilayah sekitarnya.
Apakah berita ini akan Anda gunakan untuk media sosial, blog pribadi, atau portal berita formal? Jika memerlukan penyesuaian gaya bahasa atau penambahan kuotasi fiktif dari peneliti, silakan beri tahu saya.***














