Pacu Bithek Jadi Warisan Budaya yang Hidupkan Ranu Klakah

oleh -15 Dilihat
Pacu Bithek Jadi Warisan Budaya yang Hidupkan Ranu Klakah
banner 468x60

Penulis: Yoli Andi Purnomo | Editor: Yobie Hadiwijaya

TOURSEHAT.COM-Riuh tepuk tangan mengiringi deretan bithek yang meluncur membelah perairan Ranu Klakah, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Minggu (2/8/2026).

banner 336x280

Di balik kemeriahan Festival Pacu Bithek, tersimpan kisah panjang tentang tradisi masyarakat yang kini berkembang menjadi kekuatan pelestarian budaya, lingkungan, sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Bagi masyarakat Ranu Klakah, bithek atau gethek dalam bahasa Madura bukan sekadar rakit bambu. Sarana sederhana tersebut telah lama digunakan untuk menuju karamba jaring apung (KJA), menangkap ikan, hingga menunjang berbagai aktivitas ekonomi dan sosial di kawasan danau.

Tradisi itu kemudian berkembang menjadi Pacu Bithek, sebuah perlombaan yang kini dikemas sebagai festival budaya untuk memperkenalkan identitas lokal kepada masyarakat luas.

Dari Gethek Menjadi Pacu Bithek

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, menjelaskan penggunaan gethek telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ranu Klakah sejak lama.

Menurutnya, dari aktivitas sehari-hari masyarakat yang menggunakan rakit bambu untuk menjangkau karamba dan menjala ikan, lahirlah tradisi berpacu menggunakan bithek yang diwariskan secara turun-temurun.

Selama beberapa tahun terakhir, perlombaan tersebut rutin digelar di tingkat desa. Tahun ini, tradisi itu hadir dengan identitas baru melalui Festival Pacu Bithek.

“Nama Pacu Bithek baru digunakan tahun ini setelah kami berkoordinasi dengan banyak pihak agar tradisi ini memiliki identitas yang lebih kuat dan semakin mudah dikenal masyarakat, seperti halnya Pacu Jalur yang telah mendunia,” ujar Yuli.

Di antara peserta yang berlomba, semangat menjaga tradisi tampak begitu kuat. Rakit bambu yang dahulu menjadi alat mencari nafkah kini menjadi simbol pelestarian budaya yang diwariskan kepada generasi muda.

Tradisi yang Menjaga Kelestarian Danau

Festival Pacu Bithek tahun ini juga dirangkaikan dengan kegiatan restocking atau penebaran benih ikan ke Ranu Klakah sebagai upaya membantu memulihkan populasi ikan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem danau setelah fenomena koyo yang sempat memengaruhi kehidupan biota perairan.

Menurut Yuli Harismawati, menggabungkan kegiatan konservasi dengan tradisi masyarakat membuat pesan pelestarian lingkungan lebih mudah diterima.

“Restocking kami lakukan untuk membantu pemulihan populasi ikan dan mendukung keseimbangan ekosistem pasca koyo. Nilai edukasi dan sosialisasinya akan semakin kuat ketika dipadukan dengan tradisi masyarakat sekitar Ranu Klakah,” katanya.

Ia menilai pelestarian lingkungan akan lebih efektif apabila menjadi bagian dari tradisi yang tumbuh dan dicintai masyarakat.

Budaya yang Menggerakkan Ekonomi Lokal

Ranu Klakah merupakan salah satu danau vulkanik (maar) di kaki Gunung Lamongan yang menjadi bagian dari kawasan Trilogi Ranu bersama Ranu Pakis dan Ranu Bedali. Selain menjadi sumber mata pencaharian masyarakat melalui sektor perikanan air tawar, kawasan ini juga berkembang sebagai destinasi wisata alam dengan panorama danau, kuliner khas, dan kekayaan budaya lokal.

Bagi masyarakat setempat, danau tidak hanya menjadi bentang alam, tetapi juga ruang kehidupan yang menghubungkan aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Kehadiran Festival Pacu Bithek turut memberikan dampak ekonomi melalui meningkatnya kunjungan wisatawan yang membuka peluang bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, perajin, hingga masyarakat sekitar.

Yuli berharap Festival Pacu Bithek terus berkembang menjadi gerakan bersama dalam menjaga kelestarian Ranu Klakah.

“Kami berharap masyarakat semakin peduli menjaga Ranu Klakah, mulai dari kebersihannya, penataan karamba, pengembangan kuliner ikan, hingga kawasan wisatanya, sehingga Ranu Klakah menjadi kawasan yang indah, tertata, dan mampu menghidupkan ekonomi warga sekitar,” ujarnya.

Tradisi yang Menjadi Identitas Daerah

Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menilai Festival Pacu Bithek menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan pembangunan daerah ketika dirawat bersama masyarakat.

“Festival Pacu Bithek bukan sekadar perlombaan, tetapi merupakan simbol persatuan, kebersamaan, dan gotong royong masyarakat Ranu Klakah. Tradisi seperti ini harus terus kita lestarikan karena menjadi identitas daerah sekaligus kebanggaan Kabupaten Lumajang,” ujarnya.

Menurut Indah Amperawati, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat. Tradisi yang tumbuh dari akar budaya lokal tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Bagi masyarakat Ranu Klakah, menjaga tradisi berarti menjaga danau sebagai sumber kehidupan. Selama bithek masih meluncur di atas perairan Ranu Klakah dan masyarakat terus merawat warisan budaya tersebut, tradisi akan tetap hidup, lingkungan tetap lestari, dan ekonomi masyarakat terus bergerak dari generasi ke generasi.****

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.