Pangkas Waktu Diagnosis, Mahasiswa Unair Gagas Alat Triase Tuberkulosis Digital

oleh -25 Dilihat
banner 468x60

Penulis: Wibisono | Editor: Yobie Hadiwijaya

TOURSEHAT.COM-Upaya penanggulangan penyakit tuberkulosis di Indonesia kini mendapatkan angin segar berkat inovasi teknologi dari kalangan akademisi muda. Tim mahasiswa lintas fakultas dari Universitas Airlangga yang beranggotakan Delsyad Muhammad Koosha Alzer dan Bayu Cahyo Bintoro sukses menggagas sebuah alat skrining dini tuberkulosis portabel yang terintegrasi dengan aplikasi digital.

banner 336x280

Ide kreatif yang berfokus pada efisiensi layanan kesehatan ini berhasil mengantarkan mereka merebut Juara Kedua dalam ajang National Essay Competition di kompetisi Polymer XV yang diselenggarakan oleh Universitas Jember pada akhir Agustus 2026.

Gagasan ini lahir sebagai solusi atas kendala klasik di lapangan, seperti sulitnya mendapatkan sampel dahak berkualitas tinggi dan lambatnya deteksi bakteri pada tahap awal infeksi di fasilitas kesehatan terpencil.

Alat portabel rancangan mereka bekerja secara non-invasif dengan memindai indikator biologis tertentu dari tubuh pasien tanpa memerlukan proses penantian laboratorium yang rumit. Data biologis yang ditangkap oleh sensor pada alat kemudian diproses secara otomatis oleh sistem triase untuk mengelompokkan pasien ke dalam tingkatan risiko rendah, sedang, atau tinggi.

Melalui klasifikasi ini, petugas medis dapat dengan cepat mengidentifikasi pasien yang berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan penanganan prioritas.

Kelebihan utama dari inovasi ini terletak pada interkoneksi instan antara perangkat fisik dan platform aplikasi digital untuk meminimalkan kesalahan pencatatan manual. Begitu proses pemindaian selesai, hasil pemeriksaan dan riwayat medis pasien akan langsung tersimpan di dalam basis data digital.

Jika sistem mendeteksi adanya risiko tinggi, aplikasi secara otomatis memicu rekomendasi rujukan bagi pasien agar segera menjalani pemeriksaan lanjutan seperti tes cepat molekuler atau rontgen dada di rumah sakit terdekat. Selain mempercepat rujukan, integrasi digital ini juga dirancang untuk membantu tenaga kesehatan memantau kepatuhan berobat pasien secara berkelanjutan guna menekan laju penularan tuberkulosis di tengah masyarakat.

Menanggapi potensi besar inovasi ini, pakar kesehatan masyarakat dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia memberikan apresiasi tinggi sekaligus catatan strategis terkait implementasi di wilayah pelosok. Transformasi digital dalam bentuk triase portabel dinilai sangat krusial bagi puskesmas daerah terpencil yang minim alat diagnostik lengkap guna mempercepat penemuan kasus suspek di komunitas.

Namun, para pakar mengingatkan bahwa efektivitas sistem aplikasi ini di lapangan akan sangat bergantung pada kestabilan jaringan internet lokal dan kapasitas literasi digital para tenaga kesehatan di daerah operasional. Oleh sebab itu, sebelum alat ini diproduksi massal, tahapan pengujian performa sensor dan validasi klinis yang ketat wajib diselesaikan terlebih dahulu agar hasil pemindaian awal memiliki tingkat akurasi tinggi dan tidak menimbulkan bias rujukan.****

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.