Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
TOURSEHAT.COM-Perkembangan transplantasi organ memasuki babak baru pada 2026. Selain terus meningkatkan keberhasilan transplantasi menggunakan organ manusia, para ilmuwan kini mengembangkan teknologi untuk memperpanjang masa hidup organ di luar tubuh dan menggunakan organ hewan hasil rekayasa genetika sebagai alternatif di tengah keterbatasan donor.
Ginjal babi mulai memasuki tahap uji klinis
Salah satu perkembangan paling menonjol adalah xenotransplantasi, yakni transplantasi organ hewan ke manusia. Ginjal babi yang telah dimodifikasi secara genetika telah digunakan dalam sejumlah percobaan pada manusia.
Modifikasi genetika dilakukan untuk mengurangi kemungkinan sistem kekebalan manusia mengenali organ babi sebagai benda asing. Penelitian kini berfokus pada bagaimana mempertahankan fungsi ginjal tersebut dalam jangka lebih panjang sekaligus mengurangi risiko penolakan dan infeksi.
Perkembangan ini penting karena ginjal merupakan salah satu organ yang paling banyak dibutuhkan dalam transplantasi. Jika teknologi tersebut terbukti aman dan efektif dalam jangka panjang, organ babi berpotensi menjadi sumber tambahan bagi pasien yang terlalu lama menunggu donor manusia.
Hati dan ginjal babi mulai dikembangkan bersama
Pada 2026, peneliti di China melaporkan percobaan transplantasi yang melibatkan ginjal dan hati babi hasil rekayasa genetika pada manusia. Organ-organ tersebut dapat berfungsi selama beberapa hari, memberikan bukti awal bahwa transplantasi beberapa organ lintas spesies secara bersamaan secara teknis memungkinkan. Namun, prosedur tersebut masih bersifat eksperimental dan belum menjadi terapi rutin.
Jantung babi masih menghadapi tantangan besar
Jantung juga menjadi salah satu target utama xenotransplantasi. Para peneliti berusaha menghasilkan jantung babi yang mampu bertahan lebih lama setelah ditanamkan pada manusia.
Masalah terbesar tetap berasal dari sistem kekebalan tubuh. Penolakan organ, gangguan pembuluh darah, pembekuan darah, infeksi, serta kebutuhan obat penekan kekebalan dalam jangka panjang masih menjadi tantangan yang harus diatasi sebelum transplantasi jantung babi dapat digunakan secara luas. ([Frontiers][1])
Mesin mulai “menghidupkan” organ di luar tubuh
Kemajuan transplantasi tidak hanya datang dari rekayasa genetika. Teknologi machine perfusion memungkinkan organ yang telah diambil dari donor dialiri darah beroksigen atau cairan khusus di luar tubuh.
Teknologi ini membuat dokter dapat mempertahankan organ lebih lama, memeriksa kondisinya dan, dalam beberapa kasus, menilai apakah organ yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko masih layak ditransplantasikan.
Pada transplantasi hati, normothermic machine perfusion semakin banyak digunakan untuk memanfaatkan organ donor yang sebelumnya sulit digunakan, termasuk organ dari donor dengan risiko lebih tinggi.
Donor setelah jantung berhenti semakin berperan
Donation after Circulatory Death (DCD), yaitu donasi organ setelah kematian ditentukan berdasarkan berhentinya sirkulasi, juga terus berkembang. Teknologi preservasi dan perfusi membuat organ dari kelompok donor ini semakin mungkin digunakan.
Di Amerika Serikat, DCD kini menyumbang sekitar 49 persen donor meninggal, meningkat sangat tajam dibandingkan sekitar 2 persen pada 2000. Perkembangan tersebut berpotensi menambah jumlah organ yang tersedia bagi pasien dalam daftar tunggu.
Teknologi ini juga terus dikembangkan untuk transplantasi hati. Normothermic regional perfusion (NRP) dapat membantu mengurangi kerusakan akibat kekurangan aliran darah dan memungkinkan evaluasi kondisi organ sebelum transplantasi. Konsensus internasional pada 2026 menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap penggunaan NRP dalam transplantasi dari donor DCD. ([Frontiers Partnerships][5])
Kecerdasan buatan mulai membantu pemilihan organ
AI dan machine learning juga mulai digunakan untuk memprediksi keberhasilan transplantasi dan membantu mencocokkan donor dengan penerima. Penelitian terbaru pada transplantasi ginjal menunjukkan model prediksi berbasis data dapat digunakan untuk memperkirakan hasil dan membantu mengevaluasi kecocokan donor-penerima.
Teknologi ini belum menggantikan keputusan dokter, tetapi berpotensi menjadi alat tambahan dalam menentukan organ mana yang paling sesuai untuk pasien tertentu.
Apa yang paling menjanjikan?
Jika melihat perkembangan hingga 2026, ada lima teknologi yang paling berpotensi mengubah transplantasi organ:
1. Ginjal babi hasil rekayasa genetika sebagai sumber organ alternatif.
2. Machine perfusion untuk menyelamatkan dan mempertahankan organ donor.
3. NRP untuk meningkatkan pemanfaatan organ dari donor DCD.
4. AI untuk membantu penilaian kualitas organ dan kecocokan donor-penerima.
5. Rekayasa genetika untuk menghasilkan organ hewan yang semakin kompatibel dengan tubuh manusia.
Meski demikian, sebagian teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian atau uji klinis awal. Tantangan utama tetap sama: memastikan organ dapat bertahan lama, mencegah penolakan sistem imun, mengendalikan risiko infeksi, serta memastikan prosedur aman dan dapat diterapkan secara luas.****
Kesimpulannya, masa depan transplantasi organ tidak hanya bergantung pada bertambahnya jumlah donor manusia. Dunia medis sedang mengembangkan cara untuk membuat lebih banyak organ donor yang sebelumnya tidak layak menjadi dapat digunakan, mempertahankan organ lebih lama di luar tubuh, dan pada akhirnya menciptakan sumber organ baru melalui rekayasa genetika.
Dengan perkembangan tersebut, xenotransplantasi dan teknologi preservasi organ berpotensi menjadi bagian penting dari solusi terhadap krisis kekurangan organ, meski keduanya belum siap menggantikan transplantasi organ manusia sebagai standar terapi.
Kalau untuk kebutuhan artikel media, judul yang lebih menarik bisa dibuat seperti: “Transplantasi Organ Memasuki Era Baru: Ginjal Babi, Mesin Perfusi, dan Harapan Mengatasi Krisis Donor”.














