Zika Berbahaya bagi Ibu Hamil

oleh -27 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

TOURSEHAT.COM-Dokter Ari Baskoro Konsultan Bidang Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya menyebut, Zika penyakit akibat virus yang menular lewat gigitan Nyamuk Dengue perlu mendapat perhatian, khususnya bagi ibu hamil.

banner 336x280

Menurut Dokter Ari, infeksinya sering tidak menimbulkan gejala, tapi bisa berdampak serius pada janin. Kondisi itulah membuat Zika menjadi ancaman “sunyi” bagi ibu hamil.

“Meski mayoritas tanpa disertai gejala (asimtomatik), Zika berpotensi memicu ancaman ‘sunyi’ bagi ibu hamil (bumil). Pasalnya berisiko memantik kecacatan pada janin yang dikandungnya,” tulis Ari dalam analisisnya yang diterima suarasurabaya.net, Minggu (23/8/2026).

Hal itu disampaikan Dokter Ari, merespons imbauan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) yang mengeluarkan Level 2 Travel Health Notice untuk meningkatkan kewaspadaan bagi wisatawan yang bepergian ke Bali, Indonesia.

Peringatan tersebut diterbitkan menyusul meningkatnya laporan kasus Zika pada wisatawan yang kembali dari Bali.

Dalam analisisnya, Imunolog Unair itu menjelaskan kalau virus Zika masih punya kekerabatan dengan virus Dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Keduanya termasuk genus Flavivirus dalam famili Flaviviridae, sehingga punya sejumlah kemiripan, termasuk pada gejala klinis.

Mulai demam, ruam kemerahan, sakit kepala, serta nyeri otot dan persendian bisa muncul pada keduanya. Tapi peradangan selaput lendir mata atau conjunctivitis lebih lazim ditemukan pada infeksi Zika dan sangat jarang terjadi pada DBD.

Selain itu, perbedaan yang lebih penting muncul ketika infeksi terjadi pada perempuan yang sedang hamil. Menurut Dokter Ari, Virus Zika mampu menembus sawar plasenta yang seharusnya menjadi pelindung antara ibu dan janin.

“Kemampuannya ‘melekat’ dan menimbulkan daya rusak pada sel-sel induk saraf (neural progenitor cells) sangat tinggi di otak janin. Akibatnya pertumbuhan dan perkembangan cikal bakal sel-sel saraf, mengalami hambatan hingga berisiko terhenti total. Terjadilah kematian dini sel-sel tersebut (apoptosis) secara massal,” bebernya.

Salah satu dampak yang paling dikenal adalah mikrosefali atau kondisi ketika bayi lahir dengan ukuran kepala lebih kecil dari normal.

“Sifat teratogenik virus Zika sangat kuat dalam memantik kecacatan janin, terutama bila penularannya terjadi saat trimester pertama kehamilan,” jelas Ari.

Meski Zika dan Dengue ditularkan oleh jenis nyamuk yang sama, dampaknya terhadap kehamilan tidak sepenuhnya serupa. dr. Ari menjelaskan sampai sekarang belum ada bukti ilmiah bahwa dengue memiliki efek teratogenik seperti Zika. Tapi infeksi dengue pada ibu hamil tetap bisa membawa risiko lain.

“Misalnya dapat memantik persalinan prematur. Risiko lainnya bisa berupa berat badan lahir rendah (BBLR), gawat janin, atau perdarahan hebat pada ibu. Komplikasi bisa terjadi, jika terinfeksi berat menjelang waktu persalinan,” ungkapnya.***

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.